MADZHAB SYAFI’I
SEKILAS
BIOGRAFI IMAM SYAF’I, GURU-GURU DAN MURIDNYA, METHOLOLOGI (MANHAJ ) FIQIHNYA
SERTA KARYANYA, TOKOH PETINGAN ULAMA SYAFIIYAH DAN KARYANYA SERTA BEBERAPA NOTASI
YANG DIGUNAKAN
A.
Sekilas
Biografi Imam Syafi’i
Imam Syafi’I bernama asli
Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman
bin Syafi’ dari marga Hasyimi, suku
bangsa Al Quraisy, keturunan Mathallib.
Ia memiliki nama kunyah Abu Abdillah .
Ia dinisbatkan kepada Syafi’ bin as
Saib, sehingga dikenal orang dan popular dengan sebutan Syafi’i mengalahkan nama
aslinya . Nasabnya menyatu dengan Nabi
pada datuknya yang bernama Abdul Manab bin Qusyai.
Imam Syafi’I lahir di Gaza ,
salah satu wilayah di negeri Syam . Gaza bukanlah tanah air negeri kelahiran
ayahandanya. Namun ayahnya melawat ke negeri tersebut untuk suatu kepentingan
dan keperluan akan tetapi takdir Allah
menghendaki lain, ajal datang
menjemputnya . Tak lama kemudian lahirlah putranya Muhammad (nama asli Imam Syafi’i)
dalam kondisi yatim. Dua tahun dari
usia kelahirannya, rasa kekawatiran
hilangnya silsilah nasabnya
(karena di rantauan), ibunya berniat pergi
membawanya kembali ke Makkah Mukarramah, tanah air ayahnya serta nenek moyangnya. Di Mekah ibunya
merawat , mengasuh serta membesarkannya hingga usia anak belajar. Saat di usianya telah menerima
pengajaran, ibunya membawa Syafi’I menemui
seorang guru, menyerahkannya untuk diajarkan baca al Qur’an.Karena
keluarganya tidak mampu memberi biaya pendidikannya maka sang gurupun
mengabaikan dan menelantarkannya. Namun tiap kali sang guru mengajar
anak-anak sesuatu, Imam Syafi’I mencuri dengar dan dengan mudahnya ia menangkap dan dapat memahaminya dengan cepat.
Tiap kali sang guru beranjak pergi dari tempatnya segera ia beraksi mengajar
anak-anak itu apa yang telah didengar dan dihafalkannya.Sang guru pun berfikir
apa yang dilakukan Imam Syafii dengan
anak-anak lebih banyak nilainya dibanding upah pendidikan yang
diharapkan dari dirinya serta telah mencukupinya . Sang guru pun membebaskan biaya
pendidikannya . Hal itu berlangsung hingga ia dapat menghafal Al Qur’an tiga puluh juz di usinya yang baru
beranjak tujuh tahun.
Setelah mampu menghafal Al Qur’an, ia pergi hidup membaur bergaul di
kalangan kabilah Hudzail , pedalaman
Arab yang dikenal kefashihan dan retorika bahasanya (bayan balagah). Ia tinggal
di kalangan mereka hingga hafal bahasa
dan syai-syair arab, kisah-kisah sejarah perikehidupan bangsa arab dan silsilah
nasabnya, sampai-sampai Al Ashmu’I
dengan keaguangannya membacakan syair-syair orang-orang kabilah Hudzail
padanya. Selanjutnya ia kembali ke
Makkah menimba ilmu dan mendalami fiqih pada Muslim bin Kholid Al Zanji,
seorang mufti Mekkah hingga ia diperkenankan berfatwa di usianya belia yang
masih baru lima belas tahun. Kemudian ia pergi ke Madinatul Munawwarah
menjumpai Imam Malik mempelajari kitab
Muwatha’ langsung darinya sebagai grand master hadist di masanya.
Setelah itu, ia mengembara ke Yaman belajar berkuda dan berdebat (jidal)
, bekerja dan menjabat sebagai pejabat pemerintah atas berkat bantuan Mush’ab
bin Abdullah al Qursyi, seorang hakim di Yaman.
Ia menikah dengan Hamidah
binti Nafi’ bin Unsah bin Amru bin Utsman bin Affan dengan dikarunia tiga orang
anak ; Abu Utsman Muhammad (yg kelak
menjadi Hakim kota Halab/Alleppo), Fatimah dan Zaenab.
Ia pergi ke Irak dua kali mempelajari fiqihnya ahli ro’yi dari Imam Muhammad bin Hasan As Syaibany . Ia juga bertemu
dengan Imam Ahmad bin Hambal. Di Baghdad Imam Syafi’I mengajar sebagai guru ,
menyebarkan ilmu dan pemahaman fiqihnya.Kemudian ia pergi menuju Mesir (Th. 199 H)
menyebarkan pemahaman dan madzhab fiqihnya dan tinggal di kota tersebut hingga wafat.
Makamnya diketahui dan terkenal
berada di Kairo,wafat tahun 204 H/ 820 M) di usianya 54 tahun.
Imam Syafi’I adalah sosok orang yang sangat cerdas lagi brillian,
seorang pemberani dan terampil berkuda. Ia adalah orang paling lihai memanah
dari kalangan bangsa Quraisy, bidikan panahnya seratus persen tepat. Ia sosok orang
yang sangat lantang suaranya , lagi fashih bahasanya dan perkataannya menjadi
hujjah dalam berbahasa. Ia adalah seorang ahli syair yang memiliki diwan ( koleksi syair yang diabadikan orang).
Al Mubridi berkata,” Syafi’I adalah orang yang paling ahli dan piawai di bidang
syair dan sastra arab disamping sebagai orang paling mengerti di bidang fiqih
dan berbagai qiro’ah.
Imam Syafi’I memadukan dua trend kuat aliran fiqih kala
itu, antara fiqih ahli Hijaz (yang didominasi fiqih ahli hadist) dan fiqih ahli
Iraq ( dari kalangan ahli ro’yi). Ia mengkompromikan madrastul Hadist (golongan ahli hadist) dan
madrasatul ro’yi.
Beliau dikenal pula sebagai orang yang pertama kali menyusun dan
mendiwankan serta membukukan ushul fiqih. Beliau menuliskannya dalam kitab
monumental Ar Risalah yang menjadi umdah (Refensi utama) dan dasar-dasar
ilmu ushul Fiqih, menjadi mercusuar
penerang bagi para ulama membukakan jalan kajian dan penelitan serta produktif
berkarya di bidang ilmu ini .Imam Ahmad bin Hambal berkata,” Tidak ada seorang
yang menggenggam tempat tinta atau
lembaran kertas di tangannya melainkan Imam Syafii memiliki anugerah dan
hikmah yang bisa ia dapatkan.”
Imam Syafi’I adalah seorang ulama penghafal hadist dengan predikat Hafidz dan juga seorang ahli hadist. Banyak ulama ahli hadist seperti Imam Muslim dan para ulama penulis kitab sunan (kitab kumpulan Hadist) yang mengambil hadist dari beliau. Ia mendedikasikan hidupnya sepenuhnya untuk agama. Ia aktif mengajar, mengeluarkan fatwa dan berkarya di mana saja dia berada. Maka tak aneh ia telah menghasil banyak tokoh-tokoh ulama yang membawa ajaran fiqih madzhabnya serta menyebarkannya di segala penjuru negeri dunia.Ibnu Kholkan mengatakan,”Imam Syafi’I adalah tokoh ulama yang paling banyak memiliki manaqib (biografi yang ditulis orang), banyak pengagumnya dan muridnya .”
B.
Guru- guru Imam
Syafi’I
Imam Syifii belajar dan menimba ilmu dari banyak ulama di negeri
Mekah, Madinah Munawwarah, Yaman dan Irak.
Berikut nama-nama guru-guru Imam Syafii.
·
Guru –
guru beliau yang berasal dari Mekkah ada
lima , yaitu
1.
Muslim bin
Kholid al Qursyyi Azzanji , Imam fiqh ahli Mekkah. Seorang ulama berasal dari
negeri Syam. Di juluki Zanjiyyi lantaran ia berwarna kulit kemerah-merahan atau keputih putihan. Konon Imam Syafi;I belajar fiqih dan mendalaminya
darinya sebelum menjumpai Imam Malik. Ia meninggalkan ( tahun 179 H)
2.
Sufyan bin
Uyyainah bin Maemun al Hilaly , ahli hadits kota Makkah.Imam Syafi’I pernah
berkata,” Sekiranya tidak ada Imam Malik dan Sufyan bin Uyyainah niscaya hilanglah ilmu daerah Hijjaz. Dia
sosok orang yang bermata juling, pernah melakukan hajji sebanyak tujuh puluh kali, wafat tahun 179 H.
3.
Said bin
Salim al Qoddah.
4.
Daud bin Abdul
Rahman al Aththor.
5.
Abdul Hamid bin
Abdul Aziz bin Abi Zawwad.
·
Guru-guru beliu
dari ahli Madinah berjumlah enam.
1.
Imam Malik bin
Anas , tokoh ulama darul Hijjrah wafat
197 H.
2.
Ibrahim bin
Said Al Anshori.
3.
Abdul Aziz
Muhammad Addarawardy
4.
Ibrahim bin
Abi Yahya Al Asamy[i]
5.
Abdullah bin Nafi’
As Shoigh.
·
Guru-gurunya
dari ahli Yaman.
1.
Mathraf bin
Mazin.
2.
Hisyam bin
Yusuf Abu Abdil Rohman, hakim wilayah Shon’a (wafat 197)
3.
Amru bin Abi
Salamah ( teman,pengikut Al Auza’i)
4.
Yahya bin Hisan (pengikut Al Laits bin Said)
·
Guru-gurunya
dari Irak
1.
Waki’ bin al Jarrah
bin Malih Abu Sufyan, ahli hadist
kota Irak di masanya (wafat tahun
197)
2.
Hammad bin
Usamah al Kuffy Abu Usamah (wafat 201
H)
3.
Ismail bin Ulaiyyah al Basrii
4.
Muhammad bin
Hasan As Syaibany.
Mereka itu adalah guru-guru Imam Syafii dalam bidang fiqih dan
fatwa.Dari sini dapat disimpulkan dan jelaslah bagi kita bahwa Imam Syafi’I rahimahullah
menimba dan mempelajari fiqih berbagai madzhab yang berkembang di masanya.Ia
mempelajari fiqih madzhab Maliki langsung dari Imam Malik ,foudhing
fathernya, fiqih Auza’I lewat muridnya Amru bin Salamah,fiqih Al Laits bin Said dari muridnya Yahya bin
Hisan serta fiqih Abu Hanifah dan pengikutnya lewat Muhammad bin Hasan. Dalam
diri Imam Syafi’I lewat talaqqi (kajian
ilmu pada nara sumbernya) terhimpun fiqih dengan coraknya , fiqih corak Mekkah,
Madinah, Syam , Mesir dan Irak.
Imam Syafi’I mempelajari fiqih dengan berbagai corak madzhabnya dan
mengkajinya secara kritis, akomodatif
dengan penuh pemahamanan lagi selektif , bukan kajian yang penuh kecam
atau hanya membebek , taklid buta kepada pendapat orang.Setelah mempelajari dan
mengkajinya iapun berpegang apa yang mesti dipeganginya dan menolak apa yang mesti ditolak menurut
perspektif pandangannya dengan mengacu Al Qur’an , kitabullah dan sunnah
Rasul-Nya disamping tetap memperhatikan maslahat dan menolak mafsadah (Ri’ayatul masholih wa
dar il mafasid).[ii]
C.
Murid-Murid
Imam Syafi’i
Imam Syafi’I rahimahullah mempunyai murid-murid yang
mentransmisikan, menebarkan dan mengajarkan fiqihnya di setiap fase dari tiga fase kajian fiqih
dan pengembaraan ilmiahnya, baik saat di Mekkah, di Baghdad maupun di
Mesir.Beliau memiliki sejumlah murid mempelajari fiqihnya darinya langsung saat
di Mekkah,murid-murid yang menimba fiqihnya darinya saat di Baghdad dalam lawatan kedua ke Baghdad dan murid-muridnya
yang mendalami fiqihnya darinya langsung
di akhir kajiannya di Mesir.
·
Murid-muridnya
yang tersohor di Makkah al Mukarramah.
1.
Abu Bakar
Abdullah bin zubair Al Asady al makiyyi
al Humaidy.Murid setia yang menyertai Imam Syafii dalam pengembaraan dan
perjalanannya baik perjalanannya dari
Makkah ke Baghdad maupun dari
Baghdad ke Mesir. Ia menyertai dan
mendampingi Imam Syafii hingga
wafatnya.Sepeninggal gurunya ia kembali ke Mekkah Mukarramah menjadi mufti dan
menfatwakan berbagai fatwa bagi penduduk Mekkah
hingga meninggal (tahun 219 H),
riwayat lain menyebutkan tahun 220 H).
2.
Abu Walid
Musa bin Abi Jarudy
3.
Abu Ishaq
Ibrahim bin Muhammad al Abasy (wafat 240
H)
·
Murid-murid
tersohor dari Baghdad
1.
Abu Tsaur al Kalby, Ibrahim bin Kholid al Baghdadi
wafat (240 H)
2.
Abu Ali Husain
bin Ali al Karabisy ,di juluki al Karabisy karena ia menjual karabis , sejenis
kain tebal lagi kasar . Kata tunggalnya karbis – kata arab serapan dari bahasa Persia. Ia meninggal
tahun 240 H, konon riwayat lain menuturkan tahun 256 H.
3.
Abu Ali Hasan
bin Muhammad bin Husen al
Za’farany, dinisbatkan kepada Za’faranah, salah satu kampung dekat Baghdad. Ia
meninggal tahun 260 H, konon tahun 249
H.
·
Murid-muridnya
tersohor dari Mesir
1.
Harmalah bin
Yahya bin Abdillah bin Harmalah al Misri , yang wafat
tahun 243 H konon tahun 244 H.
2.
Abu Ya’qub Yusuf
bin Yahya al Qursiyyi al buwaithi
, dinisbatkan kepada Buthi, salah satu kampung dataran tinggi Mesir.Ia tergolong murid dan tokoh besar ulama penganut Imam Syafi’I dan selaku
kholifah, pengganti dan penerusnya sepeninggalnya.Imam Syafii mengatakan
tentang sosok dirinya,” Tidak ada orang yang berhak dan layak menduduki kedudukanku ini dari Abu Ya’qub dan tidak ada seorang dari
murid-muridku yang lebih tahu dari dirinya. Ia meninggal di dalam penjara tahun
232 H , konon tahun 231 H.
3.
Abu
Ibrahim Ismail bin Yahya
al Muzanni al Misri. Imam Syafii menuturkan perihal sosok dirinya,”
Sekiranya ia berdebat dengan syaitan niscaya dapat mengalahkannya.” Ia
wafat 264 H, dan dimakamkan dekat pusara gurunya Imam
Syafi’I rahimahullah.
4.
Rabi’ bin
Sulaiman bin Abdul Jabbar al Muradi ,
seorang muadzin di sebuah masjid Jami’ Mesir dan pembantu pribadi setia Imam Syafi’i. . Imam Syafii berkata, memuji
sosok dirinya,” Dia adalah murid yang paling hafal dengan fatwa dan
fiqihnya” Ia menjadi refens dan tumpuan
orang dari berbagai negeri untuk mengambil
dan mempelajari ilmunya Imam Syafii dan
meriwayatkan berbagai kitab dan karya tulisnya. Oleh karena bila nama Rabi’ ini dituturkan dalam
kitab-kitab fiqih karya ulama madzhab
Syafii secara mutlak (tanpa menyebutkan nisbatnya) maka yang
dimaksudkan adalah Rabi’ al Murady.
5.
Rabi’ bin
Sulaiman bin Daud al Jizy ,
dinisbatkan al Jizah, salah satu wilayah
di Mesir. Ia hanya memiliki sedikit riwayat dari Imam Syafii .Ia meninggal
tahun 256 H.
Di samping tokoh ulama dari kaum laki-laki tersebut muncul pula
dari didikannya sejumlah kaum wanita ahli fiqih, di antaranya adalah saudara perempuan al Muzanny.
Dan diantara ulama yang
menimba ilmu dari Imam Syafi’I dan
berguru kepadanya, meski tidak dikenal
sebagai penganut madzhabnya
adalah Imam Ahmad bin Hambali.
PROFIL MADZHAB
IMAM SYAFI’I
Imam
Syafii rahimahullah belum berniat
membentuk madzhab tersendiri yang
otorotif atau berbagai pendapat fiqih secara independent lepas
dari pendapat-pendapat Imam Malik
rahimahullah kecuali setelah perjalanannya ke Baghdad pertama kali tahun 184 H. Sebelumnya tergolong ulama pengikut setia Imam Malik,pembela pendapatnya
Dan saat ia beranjak dewasa ia berniat bekerja mencari penghidupan,
Mush’ab bin Abdullah Quraisy , seorang
Hakim di negeri Yaman membantunya dan mengangkatnya sebagai pejabat.Ia menerima dan menjalankan
amanat dengan sebaik-sebaiknya.
Imam Syafi’I menikahi Humaidah binti Nafi’ bin Unsah bin Amru bin
Utsman bin Affan dan mendapat tiga orang anak ; Abu Utsman Muhammad (Hakim kota Halaba/ Allepo) , Fatimah dan
Zaenab.
[i] ) Para ulama sepakat bahwa bahwaIbrahim bin Abi Yahya dari penganut mu’tazilah , meski demikian ini tidak mengurangi kredibilitas Imam Syafi’I karena ia hanya mengambil dan belajar fiqih dan hadistnya bukan persoalan ushuliddin.
[ii] ) As Syafi’I hayatuhu wa ashruhu, karya Abu Zahrah (hal. 41, 43) dan Kitab As Syahawy , Tarih Tasyri’Islamy (hal. 181, 182)